Tampilkan postingan dengan label Pamekasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pamekasan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Januari 2015

Jejarign Sosial Kreasi Anak Madura (Xakera)


Xakera adalah layanan situs jejaring sosial asal Madura Pamekasan yang didirikan oleh MF dan M. AS, yang didirikan sejak tahun 2014 dan di publikasikan pada Januari 2015. Situs jejaring sosial ini memberikan konten-konten layaknya situs-situs jejaring sosial pada umumnya yang memungkinkan penggunanya (user) untuk mengirim pesan pribadi (message private), update status (post), mengganti foto profil, membuat grup, membuat acara, berbagi gambar, berbagi video, dan berbagi beberapa file lainnya. www.xakera.com

Pada 27 Desember 2015 MF yang baru saja lulus (menyelesaikan kuliahnya) di Fakultas Teknik jurusan Sistem Informasi di salah satu Universitas Islam di madura (Universitas Islam Madura) Pamekasan, dan M. AS yang sedang menempuh kuliahnya di Fakultas Teknik jurusan Teknik Informatika Universitas Islam Madura, meluncurkan XAKERA untuk pengujian versi beta pada Januari 2015 dengan nama domain www.xakera.com
 
Official Logo Xakera
Fungsionalitas inti situs jejaring sosial ini didasarkan pada pesan pribadi (message private), berbagi foto, update status dan hubungan dengan teman-teman, memiliki konten untuk mengelola komunitas/grup, dan memungkinkan penggunanya (user) untuk meng-upload foto dan file-file lainnya, mencari user lain atau grup. XAKERA juga memiliki mesin pencarian yang memungkinkan untuk menemukan teman-teman, serta pencarian grup ''real-time''.

Jadikan hidup lebih positif, Berbagi ilmu, ide dan pengalaman, terhubung selalu dengan teman, kerabat dan jadikan kehidupan Anda lebih berarti.

Temukan orang-orang disekitar Anda, atau mereka yang pernah studi, bekerja bersama Anda, dan bangkitkan semangat dan kembangkan wawasan baru dalam kehidupan Anda.

Menjadikan pertemanan Anda lebih akrab dan selalu terhubung, kirim pesan pribadi, dan berbagi cerita, momen, dan hal-hal menarik lainnya bersama teman dan kerabat, dan jangan lewatkan peristiwa terbaru dari orang-rang terdekat Anda




Algoritma Komputer Pamekasan Software Teknologi Tutorial Blog Tutorial Facebook

Minggu, 06 Mei 2012

Arek Lancor Simbol Kota Pamekasan

Sejarah Arek Lancor Pamekasan – Seperti yang sudah pernah disinggung pada postingan tentang sejarah pulau madura, bahwa Kabupaten Pamekasan merupakan salah satu kabupaten paling muda diantara 4 kabupaten yang ada di pulau madura. Sedangkan postingan komunitas blogger madura kali ini akan sedikit mengupas hal yang memang sudah tidak asing lagi buat masyarakat madura. Apalagi kalau bukan monumen arek lancor yang merupakan kebanggaan masyarakan Pamekasan.

Monumen Arek Lancor yang terletak di jantung kota Pamekasan tepatnya di depan masjid Agung Asy-syuhada dan dikelilingi jalan berbentuk lafadz Allah. Hal ini mengandung makna yang sangat mendalam, bahwa kemerdekaan yang telah kita raih merupakan rahmat Allah SWT, Yang Maha Kuasa. Betapa pun para pejuang kita dengan bersenjatakan Arek Lancor, bambu runcing dan senjata tradisional lainnya dapat merebut dan mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Monumen Arek Lancor Pamekasan adalah monumen perjuangan yang merupakan tugu peringatan kepahlawanan rakyat Madura dalam mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Bentuk monumen menggambarkan kobaran api nan tak kunjung padam yang terpencar dari perpaduan senjata tradisional rakyat Madura ArekLancor sebagai lambang dinamika yang menyala-nyala dari pejuangnya. Monumen Arek Lancor berdiri tegak diatas landasan yang kokoh melukiskan keteguhan dan kesiap-siagaan rakyat madura dalam menghadapi setiap tantangan.

Masyarakat Pamekasan dan pelancong biasanya pada sore hari dan malam hari baik yang sekedar menghilangkan rasa jenuh atau melepaskan rasa lelah sambil menikmati indahnya monumen Arek Lancor yang seakan menyala terkena terpaan sinar lampu di tengah rerimbunan taman dan hiasan lampu yang beraneka warna menambah keindahan kota Pamekasan di malam hari. Selain itu, acara rutin yang diadakan setiap hari minggu pagi diadakan senam sehat dan juga terdapat sarana olahraga tennis di areal monumen arek lancor.
Pamekasan

Jumat, 12 Agustus 2011

Sejarah Kabupaten Pamekasan Madura

Kabupaten Pamekasan lahir dari proses sejarah yang cukup panjang. Istilah Pamekasan sendiri baru dikenal pada sepertiga abad ke-16, ketika Ronggosukowati mulai memindahkan pusat pemerintahan dari Kraton Labangan Daja ke Kraton Mandilaras. Memang belum cukup bukti tertulis yang menyebutkan proses perpindahan pusat pemerintahan sehingga terjadi perubahan nama wilayah ini. Begitu juga munculnya sejarah pemerintahan di Pamekasan sangat jarang ditemukan bukti-bukti tertulis apalagi prasasti yang menjelaskan tentang kapan dan bagaimana keberadaannya.

Kemunculan sejarah pemerintahan lokal Pamekasan, diperkirakan baru diketahui sejak pertengahan abad ke-15 berdasarkan sumber sejarah tentang lahirnya mitos atau legenda Aryo Menak Sunoyo yang mulai merintis pemerintahan lokal di daerah Proppo atau Parupuk. Jauh sebelum munculnya legenda ini, keberadaan Pamekasan tidak banyak dibicarakan. Diperkirakan, Pamekasan merupakan bagian dari pemerintahan Madura di Sumenep yang telah berdiri sejak pengangkatan Arya Wiraraja pada tanggal 13 Oktober 1268 oleh Kertanegara.

Jika pemerintahan lokal Pamekasan lahir pada abad 15, tidak dapat disangkal bahwa kabupaten ini lahir pada jaman kegelapan Majapahit yaitu pada saat daerah-daerah pesisir di wilayah kekuasaan Majapahit mulai merintis berdirinya pemerintahan sendiri.

Berkaitan dengan sejarah kegelapan Majapahit tentu tidak bisa dipungkiri tentang kemiskinan data sejarah karena di Majapahit sendiri telah sibuk dengan upaya mempertahankan bekas wilayah pemerintahannya yang sangat besar, apalagi saat itu sastrawan-sastrawan terkenal setingkat Mpu Prapanca dan Mpu Tantular tidak banyak menghasilkan karya sastra. Sedangkan pada kehidupan masyarakat Madura sendiri, nampaknya lebih berkembang sastra lisan dibandingkan dengan sastra tulis Graaf (2001) menulis bahwa orang Madura tidak mempunyai sejarah tertulis dalam bahasa sendiri mengenai raja-raja pribumi pada zaman pra-islam.

Tulisan-tulisan yang kemudian mulai diperkenalkan sejarah pemerintahan Pamekasan ini pada awalnya lebih banyak ditulis oleh penulis Belanda sehingga banyak menggunakan Bahasa Belanda dan kemudian mulai diterjemahkan atau ditulis kembali oleh sejarawan Madura, seperti Zainal fatah ataupun Abdurrahman. Memang masih ada bukti-bukti tertulis lainnya yang berkembang di masyarakat, seperti tulisan pada daun lontar atau Layang Madura, namun demikian tulisan pada layang inipun lebih banyak menceritakan sejarah kehidupan para Nabi (Rasul) dan sahabatnya, termasuk juga ajaran-ajaran agama sebagai salah satu sumber pelajaran agama bagi masyarakat luas.

Masa pencerahan sejarah lokal Pamekasan mulai terungkap sekitar paruh kedua abad ke-16, ketika pengaruh Mataram mulai masuk di Madura, terlebih lagi ketika Ronggosukowati mulai mereformasi pemerintahan dan pembangunan di wilayahnya. Bahkan, raja ini disebut-sebut sebagai raja Pertama di Pamekasan yang secara terang-terangan mulai mengembangkan Agama Islam di kraton dan rakyatnya.

Hal ini diperkuat dengan pembuatan jalan Se Jimat, yaitu jalan-jalan di Alun-alun kota Pamekasan dan mendirikan Masjid Jamik Pamekasan. Namun demikian, sampai saat ini masih belum bisa diketemukan adanya inskripsi ataupun prasasti pada beberapa situs peninggalannya untuk menentukan kepastian tanggal dan bulan pada saat pertama kali ia memerintah Pamekasan.

Bahkan zaman pemerintahan Ronggosukowati mulai dikenal sejak berkembangnya legenda kyai Joko Piturun, pusaka andalan Ronggosukowati yang diceritakan mampu membunuh Pangeran Lemah Duwur dari Aresbaya melalui peristiwa mimpi. Padahal temuan ini sangat penting karena dianggap memiliki nilai sejarah untuk menentukan Hari Jadi Kota Pamekasan.

Terungkapnya sejarah pemerintahan di Pamekasan semakin ada titik terang setelah berhasilnya invansi Mataram ke Madura dan merintis pemerintahan lokal dibawah pengawasan Mataram. Hal ini dikisahkan dalam beberapa karya tulis seperti Babad Mataram dan Sejarah Dalem serta telah adanya beberapa penelitian sejarah oleh Sarjana barat yang lebih banyak dikaitkan dengan perkembangan sosial dan agama, khususnya perkembangan Islam di Pulau Jawa dan Madura, seperti Graaf dan TH. Pigeaud tentang kerajaan Islam pertama di Jawa dan Benda tentang Matahari Terbit dan Bulan Sabit, termasuk juga beberapa karya penelitian lainnya yang menceritakan sejarah Madura.

Masa-masa berikutnya yaitu masa-masa yang lebih cerah sebab telah banyak tulisan berupa hasil penelitian yang didasarkan pada tulisan-tulisan sejarah Madura termasuk Pamekasan dari segi pemerintahan, politik, ekonomi, sosial dan agama, mulai dari masuknya pengaruh Mataram khususnya dalam pemerintahan Madura Barat (Bangkalan dan Pamekasan), masa campur tangan pemerintahan Belanda yang sempat menimbulkan pro dan kontra bagi para Penguasa Madura, dan menimbulkan peperangan Pangeran Trunojoyo dan Ke’ Lesap, dan terakhir pada saat terjadinya pemerintahan kolonial Belanda di Madura.

Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda inilah, nampaknya Pamekasan untuk perkembangan politik nasional tidak menguntungkan, tetapi disisi lain, para penguasa Pamekasan seperti diibaratkan pada pepatah Buppa’, Babu’, Guru, Rato telah banyak dimanfaatkan oleh pemerintahan Kolonial untuk kerentanan politiknya. Hal ini terbukti dengan banyaknya penguasa Madura yang dimanfaatkan oleh Belanda untuk memadamkan beberapa pemberontakan di Nusantara yang dianggap merugikan pemerintahan kolonial dan penggunaan tenaga kerja Madura untuk kepentingan perkembangan ekonomi Kolonial pada beberapa perusahaan Barat yang ada didaerah Jawa, khususnya Jawa Timur bagian timur (Karisidenan Basuki).

Tenaga kerja Madura dimanfaatkan sebagai tenaga buruh pada beberapa perkebunan Belanda. Orang-orang Pamekasan sendiri pada akhirnya banyak hijrah dan menetap di daerah Bondowoso. Walaupun‚ sisi lain, seperti yang ditulis oleh peneliti Belanda masa Hindia Belanda telah menyebabkan terbukanya Madura dengan dunia luar yang menyebabkan orang-orang kecil mengetahui system komersialisasi dan industrialisasi yang sangat bermanfaat untuk gerakan-gerakan politik masa berikutnya dan muncul kesadaran kebangsaan, masa Hindia Belanda telah menorehkan sejarah tentang pedihnya luka akibat penjajahan yang dilakukan oleh bangsa asing.

Memberlakukan dan perlindungan terhadap system apanage telah membuat orang-orang kecil di pedesaan tidak bisa menikmati hak-haknya secara bebas. Begitu juga ketika politik etis diberlakukan, rakyat Madura telah diperkenalkan akan pentingnya pendidikan dan industri, tetapi disisi lain, keuntungan politik etis yang dinikmati oleh rakyat Madura termasuk Pamekasan harus ditebus dengan hancurnya ekologi Madura secara berkepanjangan, atau sedikitnya sampai masa pemulihan keadaan yang dipelopori oleh Residen R. Soenarto Hadiwidjojo. Bahwa pencabutan hak apanage yang diberikan kepada para bangsawan dan raja-raja Madura telah mengarah kepada kehancuran prestise pemegangnya yang selama beberapa abad disandangnya.

Perkembangan Pamekasan, walaupun tidak terlalu banyak bukti tertulis berupa manuskrip ataupun inskripsi nampaknya memiliki peran yang cukup penting pada pertumbuhan kesadaran kebangsaan yang mulai berkembang di negara kita pada zaman Kebangkitan dan Pergerakan Nasional.

Banyak tokoh-tokoh Pamekasan yang kemudian bergabung dengan partai-partai politik nasional yang mulai bangkit seperti Sarikat Islam dan Nahdatul Ulama diakui sebagai tokoh nasional. Kita mengenal Tabrani, sebagai pencetus Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang mulai dihembuskan pada saat terjadinya Kongres Pemuda pertama pada tahun 1926, namun terjadi perselisihan faham dengan tokoh nasional lainnya di kongres tersebut. Pada Kongres Pemuda kedua tahun 1928 antara Tabrani dengan tokoh lainnya seperti Mohammad Yamin sudah tidak lagi bersilang pendapat.

Pergaulan tokoh-tokoh Pamekasan pada tingkat nasional baik secara perorangan ataupun melalui partai-partai politik yang bermunculan pada saat itu, ditambah dengan kejadian-kejadian historis sekitar persiapan kemerdekaan yang kemudian disusul dengan tragedi-tragedi pada zaman pendudukan Jepang ternyata mampu mendorong semakin kuatnya kesadaran para tokoh Pamekasan akan pentingnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang kemudian bahwa sebagian besar rakyat Madura termasuk Pamekasan tidak bisa menerima terbentuknya negara Madura sebagai salah satu upaya Pemerintahan Kolonial Belanda untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Melihat dari sedikitnya, bahkan hampir tidak ada sama sekali prasasti maupun inskripsi sebagai sumber penulisan ini, maka data-data ataupun fakta yang digunakan untuk menganalisis peristiwa yang terjadi tetap diupayakan menggunakan data-data sekunder berupa buku-buku sejarah ataupun Layang Madura yang diperkirakan memiliki kaitan peristiwa dengan kejadian sejarah yang ada. Selain itu diupayakan menggunakan data primer dari beberapa informan kunci yaitu para sesepuh Pamekasan.
Pamekasan

 

Copyright © Website Arek Pamekasan ™ is a registered trademark.
Blogger Templates Designed by Templateism . Hosted on Blogger Platform.